Kali Ini Menjaga Renjana Musisi di Taman Kota

Salah satunya metode bertahan untuk mengawasi kewarasan di dalam belantara beton serta kabut polusi, yaitu memakai ruang terbuka untuk kesibukan rekreatif, mendidik, serta kreatif. Soal itu yang dilaksanakan Agustinus Esti Sugen Dwiharso sepanjang lebih dari 11 tahun.

Menjadi pemusik, guru, serta pastinya penduduk negara Indonesia, pria yang akrab dipanggil Ages ini mengatakan prihatin lihat anak-anak nusantara yang semakin melupakan kebudayaan Indonesia, termasuk juga lagu-lagu nasional serta daerah.

, Ages selanjutnya dirikan Taman Suropati Chamber pada tahun 2007.

Taman Suropati Chamber adalah populasi bermusik di Taman Suropati, Jakarta, dimana anggota bisa berlatih bersama-sama dan belajar bermain alat musik gesek bersama dengan Ages serta kawan pengajar yang lain.

Berdirinya populasi itu di mulai dari kesibukan workshop musik keroncong yang disambangi Ages di Belanda.

Waktu itu, dia lihat kawan-kawan pemusik di Belanda tengah berlatih musik di dalam taman kota.

” Tetapi mereka bukan populasi yang memang teratur berlatih di taman. Kala itu memang kembali latihan saja di taman, ” ujarnya.

Berpulang dari Belanda, dia mendapat inspirasi untuk mengerjakan soal sama dengan ajak kawan sama-sama pemusik berlatih bersama dengan di Taman Suropati, Jakarta.

” Dengan berlatih di ruang terbuka, kami seperti berikan wadah rekreasi buat pengunjung. Sekalian mengerjakan olahraga di taman, pengunjung bisa lihat kami bermain, ” kata Ages.

Sebelumnya, kesibukan yang dilaksanakan cuma hanya latihan sama-sama pemusik saja. Lagu-lagu yang dimainkan yaitu lagu nasional serta daerah.

Tidak lama berlatih di taman, kesibukan inovatif itu semakin diterima gairah tinggi penduduk ditempat.

Sampai waktu ini, Taman Suropati Chamber udah disertai 75 anggota dengan kapabilitas musik yang bermacam

” Kebanyakan orang bisa ikut pula, dari mulai anak-anak sampai orangtua. Langsung dapat bawa serta alat musiknya ke Taman Suropati, ” ujarnya.

Kesibukan berlatih dilaksanakan tiap-tiap hari Minggu mulai waktu 10. 30 WIB.

Dengan cost sebesar Rp200 ribu per bulan, anggota bisa belajar mainkan alat musik gesek dari tingkat awal sampai profesional.

Kelas dibagi berubah menjadi empat golongan, yaitu bibit, akar, batang, serta dahan.

Kecuali mendapatkan peluang belajar bermusik, anggota pun dikasihkan wadah untuk menunjukkan kebolehannya lewat konser yang biasa dihelat tiap-tiap tahun di banyak tempat.

” Kebanyakan kami mengadakan konser di Gedung Kesenian Jakarta. Tapi, tanggal 28 Oktober tempo hari kami menentukan konser di Taman Suropati sekalian galang dana untuk korban tragedi di Palu, ” tutur Ages.

Taman Suropati Chamber adalah populasi musik taman pertama pada dunia. Titel itu dinobatkan dengan sah oleh Museum Rekor Dunia Indonesia di tahun 2009.

Simak juga:

Jadwal Kapal Pelni Lambelu
Jadwal Kapal Pelni Sangiang

Pada tahun 2008 lantas, Taman Suropati Chamber sempat juga ‘berlaga’ di Istana Negara.

” Banyak anggota kami yang saat ini udah menambahkan sekolah musik atau bahkan juga kerja menjadi guru musik. Guru di Taman Suropati Chamber bahkan juga ada yang dulunya murid di sini, ” papar Ages.

Berbarengan dengan rekor yang dikasihkan terhadap Taman Suropati Chamber, Ages mendapatkan peluang studi banding ke Amerika Serikat dengan beasiswa Internasional Yang berkunjung Leadership Program (ILVP) .

Lewat beasiswa itu, Ages bertandang ke New Orleans, salah satunya kota di Amerika Serikat yang tenar akan populasi musisi jalanan.

” Pemusik jalanan di New Orleans bisa bermain musik dipinggir jalan serta mendapatkan pendapatan dari talentanya, ” papar Ages.

” Lihat sejumlah lokasi di Jakarta, sesungguhnya kita dapat sesuai itu. Kalau dijaga dengan baik serta dapat dukungan mode yang ideal, tempat seperti Pasar Baru serta Kota Tua dapat jadikan ladang buat musisi jalanan yang punya bakat. “

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *