Menjemput hingga Memandikan Anak Rimba agar Mau Sekolah Simak Selengkapnya

Siang itu Suroto baru-baru ini datang di Kantor Resort Air Hitam, Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) , Jambi. Percikan lumpur di celana panjangnya gak pernah dibuat bersih.

Dikit bergegas, guru di Sekolah Rimbo Cerdas, Air Hitam, ini langsung masuk dengan beberapa orang dari perwakilan perusahaan PT Sari Aditya Loka (SAL) 1 serta pihak TNBD dan beberapa wartawan yg udah menunggunya. Suroto gak sendiri.

Pria yg kesehariannya mengajar anak-anak suku Anak Dalam (SAD) ini ditemani tiga guru yang lain, ialah Harum, Mantep, serta Wawan. Seluruhnya tetap muda-muda, energik, serta kelihatan demikian bergairah. Asumsikan saja, tiap-tiap hari mereka mesti bolak-balik keluar masuk rimba daerah TNBD yg punyai luas 54. 000 ha buat buat mengajar anak rimba.

Baca Juga : Cara Menghitung Diskon Harga

Dengan mengendarai sepeda motor, banyak guru dari PT SAL ini menerobos rimba serta medan berbukit dengan waktu tempuh 1-2 jam perjalanan. Kerapkali mereka berjalan kaki apabila sepeda motor mereka berhenti atau alami rusaknya. Perihal ini mesti mereka jalani lantaran mereka gak tega membiarkan siswa didik atau anak-anak SAD tunggu hadirnya mereka di sekolah.

“Mereka pastinya tunggu serta bertanya kenapa kami gak ada. Ditambah lagi bila kita udah janji, itu pastinya mereka tagih, ” kata Suroto yg diamini ke-tiga mitranya. Suroto menyatakan, sebelumnya buat membawa anak-anak SAD biar pengin bersekolah bukan masalah ringan.

Mereka mesti mengerjakan pendekatan mendalam, berhubungan langsung dengan anak-anak SAD sampai ikuti aktivitasnya dalam rimba. Kesibukan belajar-mengajar lantas tambah banyak dilaksanakan sejalan kesibukan sehari-hari anak-anak SAD, ialah lebih pada pendidikan sifat.

Mereka diajar terkait sopan santun, bagaimana menghargai orang-orang, terlebih orang yg lebih tua, terkait hak serta keharusan hidup hingga lifestyle sehat dll. “Setelah mereka terasa nyaman serta puas dengan hadirnya kita, baru perlahan-lahan kita ajari mereka baca tuliskan.

Sistem belajarnya pun bukan seperti di sekolahsekolah resmi. Di sekolah rimba tambah banyak bermain sembari belajar, jadi menyenangkan, ” ujar Suroto. Meski tak ringan serta diperlukan perjuangan berat serta kesabaran tambahan, banyak guru yg perangsangnya tiap-tiap bulan dibayar PT SAL 1 sama dengan penghasilan minimal regional (UMR) ini menyatakan sangatlah puas menjalaninya.

Bahkan juga mereka merasa kendala yg ada jadi kendala. “Ini sekaligus menjawab pandangan yg mengemukakan suku Anak Dalam merupakan beberapa orang terbelakang, gak pengin sekolah, maunya tinggal di rimba. Itu semua mesti terbantahkan.

Artikel Terkait : Cara Menghitung Akar kuadrat

Suku Anak Dalam ini sama dengan dengan manusia beda umumnya yg diperlukan bersosialisasi dan penghidupan serta pendidikan yg pantas, ” timpal Wawan. Pada tempat terpisah, Thresa Jurenzi, karyawan PT SAL yang guru di sekolah informal buat anak-anak SAD, ceritakan sepanjang 8 tahun mengajar anak-anak SAD, ia sepenuh hati menjalaninya meski di awalawal mengajar ia pernah seseorang diri.

“Tapi saya menganggapnya itu bukan soal, ditambah lagi gak lama kemudian ada sejumlah orang masuk. Mereka terus saya usulkan dengan perusahaan (PT SAL) untuk jadi guru. Untungnya pihak perusahaan pun sepakat saja, ” ujarnya.

Menurut wanita berkerudung itu, banyak narasi serta pengalaman hebat juga sekaligus haru serta menyenangkan sepanjang mengajar anak-anak SAD yg diketahui warga lebih kurang jadi anak rimba atau suku Team.

Bahkan juga mereka mesti menjemput satu per satu anak-anak rimba dalam rimba buat dibawa ke sekolah. “Mereka kan memang gak mengetahui betul-betul apa yang dimaksud sekolah. Jadinya menggugah kesadaran mereka itu gak ringan. Kita jemput mereka satu-persatu di tempat tinggalnya.

Yg belum mandi kita mandikan, kita pakaikan pakaian sekolah, sampai yg buang air besar lantas kita membersihkan. Sebelum belajar mereka pun kita kasih sarapan atau snack, ” kata Thresa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *