Berikut Link and Match’ Jangan Sekadar Lengkapi Mesin Ekonomi

Debat Penentuan Presiden 2019 yang dikerjakan oleh dua cawapres tersisa beberapa pengakuan menarik di bidang ekonomi. Diantaranya berkaitan taktik link and match (pengaitan serta pencocokan) pada bidang pendidikan serta dunia usaha untuk kurangi tingkat pengangguran nasional.

Calon Wakil Presiden Nomer Urut 01 Ma’ruf Amin akui akan tingkatkan kualitas tenaga kerja lewat revitalisasi pendidikan. Setelah itu, meningkatkan latihan serta pelatihan lewat balai latihan kerja sekaligus juga mengenalkan dengan dunia usaha.

Tidak cuma itu, Ma’ruf pula akui akan menggerakkan tenaga kerja supaya dapat kuasai tehnologi digital untuk melawan revolusi industri 4.0. Bila dipilih, Ma’ruf menjanjikan pemerintah akan meneruskan perlindungan pada tenaga kerja di luar negeri.

“Tenaga kita mesti disediakan supaya lebih siap melawan rintangan ke depan ten years challenge,” tutur Ma’ruf dalam satu diantara session debat, Minggu (17/3) malam.

Baca Juga : Pengertian Belajar

Di lain sisi, Calon Wakil Presiden Nomer Urut 02 Sandiaga Uno menjelaskan akan menggerakkan link and match pada dunia pendidikan serta dunia usaha. Hal tersebut dikerjakan untuk menangani jumlahnya pengangguran tinggi, khususnya yang datang dari angkatan muda.

“One stop service Rumah Siap Kerja akan me-link and match ketrampilan ke dunia usaha,” katanya.

Menyikapi hal itu, Sukamdi, Ahli Tenaga Kerja Pusat Studi Kependudukan serta Kebijaksanaan Kampus Gadjah Mada menjelaskan masalah yang fundamental sejak dahulu adalah rencana di bidang pendidikan serta dunia usaha memang belum pernah searah bersama-sama. Ke-2 bidang mempunyai rencana semasing serta berjalan sendiri-sendiri.

“Contoh sangat terlihat, tidak ada peraturan bagian pendidikan yang dilandasi pada need assesment keperluan tenaga kerjanya seperti apa. Sekarang ini prodi (program pendidikan) membuat sendiri, tetapi nyatanya tidak diperlukan,” katanya pada CNNIndonesia.com, Senin (18/3).

Ia memandang pemerintah sekarang ditempatkan pada rintangan revolusi industri 4.0 yang memerlukan tanggapan selekasnya. Satu diantara jalan keluar yang pas adalah dengan lakukan revitalisasi edukasi vokasional.

“Pendidikan kita ketinggalan jauh dengan negara tetangga, pemerintah mesti betul-betul mengerjakan sekolah vokasi. Pasti mesti melahirkan orang yang miliki kompetensi yang diperlukan pasar, termasuk juga menanggapi revolusi industri 4.0. Itu penting,” tuturnya.

Artikel Terkait : Pengertian Kurikulum 2013 (K13)

Walau demikian, Dosen Fakultas Geografi Kampus Gadjah Mada itu menyadari ketidaksinkronan yang seringkali berlangsung pada dunia pendidikan serta dunia usaha.

Menurutnya, ide link and match pada ke-2 bidang menafikkan jika bidang pendidikan mempunyai manfaat baik untuk mencerdaskan bangsa, bukan sebatas penuhi keperluan dunia usaha serta menghasilkan mur buat mesin-mesin ekonomi .

Ide link and match tidak cuma mencocokkan suplai and permintaan dunia usaha, hingga tidak mesti strict jika bagian yang di kembangkan itu yang diperlukan pasar,” katanya.

Sukamdi memberikan jangan pernah kebijaksanaan link and match pada dunia pendidikan serta dunia usaha mengutamakan bagian kognitif atau ranah potensi berfikir, tapi tidak ada konsentrasi dari penambahan bagian afektif berbentuk sikap serta nilai-nilai kehidupan.

“Jangan pernah kebijaksanaan link and match membuat pendidikan kelak mengutamakan bagian kognitif tetapi afektif-nya tidak ada, kelak akan kalut jadinya,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *